HUBUNGAN BAHASA DENGAN SARAF
Esmerisa
Marisa Tri Umami
(marysa_3umami@yahoo.co.id)
Resty Anindita Fitriani
(restyajah2@yahoo.co.id)
Abstrak
Atikel ini
mendeskripsikan tentang hubungan bahasa dengan saraf. Masalah pada makalah ini
menekankan bagaimana sebenarnya hubungan antara bahasa itu dengan saraf kita,
terutama pada saraf otak. Pembatasan pada artikel ini yaitu hanya membahas
hubungan bahasa dengan satu bidang ilmu lain saja yaitu dengan ilmu saraf. Metode
yang digunakan adalah metode deskriptif dan pustaka. Hasil dari pembahasan ini
adalah apabila saraf kita tidak berfungsi dengan baik, maka dalam berbahasa
juga tidak baik. Apabila saraf kita bekerja dengan baik, maka dalam berbahasa
juga akan baik.
Kata Kunci : Bahasa dan Saraf
PENDAHULUAN
Tiada kehidupan tanpa
adanya sebuah bahasa. Setiap setiap manusia pasti berbahasa. Dalam
berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa. Dimanapun kita berada pasti
menggunakan bahasa. Bahasa itu sangatlah penting. Kita tidak bisa hidup tanpa
adanya bahasa. Setiap kegiatan apapun yang dilakukan manusia pasti menggunakan
bahasa. Karena bahasa adalah kebutuhan pokok bagi hidup kita semua.
Bahasa memiliki hubungan
dengan bidang ilmu-ilmu lain. Hubungan yang dimiliki bahasa dengan ilmu lain juga
sangatlah erat. Karena bidang ilmu lain pasti membutuhkan adanya bahasa dan
bahasa juga di pengaruhi oleh bidang ilmu lain. Apapun ilmu yang kita pelajari
pasti menggunakan bahasa. Untuk itu patut kita ketahui bahwa tanpa adanya
bahasa, hidup ini tak akan ada.
Contohnya saja hubungan
bahasa dengan ilmu politik. Seseorang yang ingin masuk ke dunia politik harus
pandai berbahasa. Agar bisa diterima oleh anggota lainnya serta masyarakat.
Kemudian ilmu kesehatan dengan bahasa juga memiliki hubungan yang sangat erat.
Apabila keadaan kita kurang sehat, seperti sakit gigi, batuk, flu dan sariawan
bahasa kita akan terganggu karena kesulitan mengucapkan kata-kata serta vokal
yang kurang jelas.Masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Tetapi pada artikel
ini penulis aka n membahas tentang hubungan bahasa dengan saraf. Karena menurut
penulis ada hubungan yang sangat erat dan mendalam antara saraf dan bahasa.
Salah satu organ tubuh manusia, terdapat bagian yang
berfungsi mengendalikan semua gerak dan fungsi tubuh, termasuk berbahasa, yaitu
otak. Dalam buku Subyakto (1992:108) dijelaskan bahwa kira-kira satu abad yang
lalu, sudah ada asumsi dasar bahwa ada kaitan langsung antara bahasa dan otak. Pada
otak terdapat kira-kira 100 miliar sel saraf yang mengatur segala sesuatu aktifitas
manusia. Salah satunya adalah dalam berbahasa.
Untuk itu penulis akan
menguraikan apa hubungan antara bahasa dan saraf. Tunjuannya agar kita
mengetahui sejauh mana hubungan antara kedua ilmu ini. Karena hal ini juga
sangat penting dan perlu kita ketahui untuk menambah ilmu pengetahuan kita.
PEMBAHASAN
Menurut Tarigan
(1989:4), beliau memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu
sistem yang sistematis, barang kali juga untuk sistem generatif. Kedua, bahasa
adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer.
Pendapat di atas hampir serupa dengan pendapat Broam dalam Faizah (2009:100) yang
mengungkapkan bahasa sebagai suatu sistem yang terdiri dari simbol-simbol bunyi
arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial sebagai alat bergaul
satu sama lainnya.
Sistem di sini berarti susunan teratur berpola yang
membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. Menurut Chaer (2007:34)
bahasa terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara teratur
tersusun menurut pola tertentu, dan membentuk suatu kesatuan. Berbeda dengan Santoso (1990:1), beliau
mengungkapkan bahwa bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat
ucap manusia secara sadar.
Dapat kita
ketahui dari pendapar Santoso di atas, bahwa bahasa itu terdiri dari rangkaian
bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap kita. Sehingga kita dapat berbahasa dengan
alat ucap kita. Cara kita berbahasa yaitu dengan berbicara dan menulis.
Pangabean dalam
situs ( http://edukasi.kompasiana.com
), berpendapat
bahwa bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang
terjadi pada sistem saraf. Pendapat Pangabean ini menjelaskan bahwa bahasa itu
merupakan sistem bahasa yang mengungkapkan atau menyampaikan segala sesuatu
yang terjadi pada saraf. Dengan hal ini, dapat dikatakan bahwa bahasa
berhubungan dengan saraf.
Menurut teori
Piaget bahwa bahasa menentukan cara kita berfikir. Pikiran membentuk bahasa,
tanpa pikiran bahasa tidak ada. Pikiran yang mennentukan aspek-aspek sintaksis
dan leksikon bahasa, bukan sebaliknya.
Menurut Yuri
Alamsyah dalam situs ( http://yurirobithoh.blogspot.com)
Otak memegang peranan yang sangat penting dalam
berbahasa. Hal ini karena saraf-saraf tertentu dalam otak berkaitan dengan
fungsi berbahasa baik lisan maupun tulisan. Ini dapat dibuktikan bahwa terdapat
gangguan berbahasa bagi orang yang mengalami kerusakan otak atau kecelakaan
yang mengenai kepala.
Pada situs (http://little-chiyoo.blogspot.com)
dijelaskan bahwa dari kegiatan berinteraksi dengan lingkungan, sesorang akan
mampu belajar bahasa atau membentuk kemampuan berbahasa. Perangkat biologis
yang menentukan anak-anak dapat memperoleh kemampuan bahasa ada tiga, yaitu
otak, alat dengar, dan alat ucap. Dalam proses berbicara, sistem syaraf yang
ada di otaklah sebagai pengendali. Semua isyarat tanggapan bahasa yang sudah di
proses diotak selanjutnya di kirimkan ke daerah motor seperti alat ucap untuk
menghasilkan bahasa secara fisik.
Situs (http://artikesehatan.wordpress.com/syaraf/) mengungkapkan Sistem saraf pusat terdiri atas otak dan sumsum tulang
belakang. Sedangkan sistem saraf tepi terdiri atas sistem saraf somatis dan
sistem saraf otonom. Otak merupakan alat tubuh yang sangat
penting dan sebagai pusat pengatur dari segala kegiatan manusia. Otak terletak
di dalam rongga tengkorak, beratnya lebih kurang 1/50 dari berat badan. Bagian
utama otak adalah otak besar (Cerebrum), otak kecil (Cerebellum), dan batang
otak. Otak besar merupakan pusat pengendali kegiatan tubuh yang disadari. Otak
besar dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan kanan dan belahan kiri.
Masing-masing belahan pada otak tersebut disebut hemister. Otak besar belahan
kanan mengatur dan mengendalikan kegiatan tubuh sebelah kiri, sedangkan otak
belahan kiri mengatur dan mengendalikan bagian tubuh sebelah kanan.
Situs (http://www.scribd.com/doc/85335004/)
juga menjelaskan Otak adalah sentral supervisori dari sistem
syaraf/pusat supervisori dari sistem syaraf sentral vertebrata, yang terletak
pada kepala. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar, gerakan, perilaku
dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan
cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti
pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran
lainnya. Otak memegang peranan yang sangat penting dalam berbahasa.
Perspektif empirisme dan reasionalisme memandang adanya keterkaitan antara
basis biologis yaitu otak terhadap pengetahuan bahasa, sehingga perlu
perhatian khusus terhadap struktur dan fungsi
otak.
Saraf-saraf tertentu dalam otak berkaitan dengan fungsi berbahasa baik lisan
maupun tulisan. Ini dapat dibuktikan bahwa terdapat gangguan berbahasa bagi
orang yang mengalami kerusakan otak atau kecelakaan yang mengenai kepala,
selain itu juga dilakukan eksperimen terhadap saraf-saraf di otak bagi orang
yang sehat.
Saraf-saraf dalam otak yang berkaitan dengan fungsi
berbahasa adalah daerah broca, daerah Wernicke, dan daerah korteks ujaran
superior atau daerah motorsuplementer. Berdasarkan tiga daerah saraf tersebut
dapat dikatakan bahwa terdapat bagian-bagian tertentu pada saraf-saraf di otak
kiri manusia yang mempengaruhi manusia untuk menghasilkan ujaran untuk
berbahasa dan berkomunikasi dengan sesama.
Menurut Whitaker, dalam (jurnal Harianja) penentuan daerah-daerah tertentu
dalam otak dalam hubungannya dengan bahasa itu didasarkan pada tiga bukti
utama. Bukti pertama ialah unsur-unsur keterampilan berbahasa tidak menempati
bagian yang sama dalam otak. Keterampilan bahasa (berbicara, menyimak, membaca,
dan menulis) dan struktur linguistik (ciri sintaksis dan semantik, bentuk
leksikal dan gramatikal) memiliki daerah khas dalam otak bukti kedua ialah
bahwa bahasa semua orang menempati daerah yang sama dalam otak. Bukti ketiga
ialah terdapat hubungan antara kemampuan bahasa dengan belahan otak.
Menurut
Subowo (1993:8-10) Secara umum sel saraf dikelompokkan dalam sel sensorik dan sel motorik. Sel sensorik menerima ransang yang selanjutnya
mengubahnya menjadi implus listrik dan diteruskan ke pusat yang tingkatnya
lebih tinggi dalam sistem saraf. Sel-sel saraf demikian terdapat pada
tempat-tempat tertentu dalam suatu alat khusus yang dinamakan reseptor.
Dengan demikian kelompok sel-sel
sara tersebut berfungsi memantau lingkungan internal dan eksternal dari tubuh.
Sedangkan sel saraf motorik membawa impuls dari pusat sistem saraf yang lebih
tinggi ke “sel pekerja”, biasanyasel otot dan sel kelenjar, sehingga dapat
berlangsung respons terhadap perubahan keadaankedua lingkunga di atas. Di dalam
reaksi reflex yang sederhana, perpindahan sinyal dari sel sensorik ke sel
motorik berlangsung secara otomatik. Rangkaian demikian dimasukkan ke dalam
sistem saraf otonom.
Menurut situs (http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_saraf)
Sel saraf atau neuron merupakan satuan kerja utama dari sistem saraf yang berfungsi menghantarkan impuls
listrik yang terbentuk akibat adanya suatu stimulus (rangsang). Jutaan sel
saraf ini membentuk suatu sistem saraf.
Sel saraf dikelompokkan menjadi 3
kelompok, yaitu:
1.
Sel saraf sensorik
Fungsi sel
saraf sensorik adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat,
yaitu otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung akson dari
saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet).
2.
Sel saraf motorik
Fungsi sel
saraf motor adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau
kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. Badan sel
saraf motor berada di sistem saraf pusat. Dendritnya sangat pendek berhubungan
dengan akson saraf asosiasi, sedangkan aksonnya dapat sangat panjang.
3.
Sel saraf intermediet/Sel saraf konektor
Sel saraf
intermediet disebut juga sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan di dalam
sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf
sensori atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem
saraf pusat. Sel saraf intermediet menerima impuls dari reseptor sensori atau
sel saraf asosiasi lainnya. Kelompok-kelompok serabut saraf, akson dan dendrit
bergabung dalam satu selubung dan membentuk urat saraf. Sedangkan badan sel
saraf berkumpul membentuk ganglion atau simpul saraf.
Pada waktu kita
berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak
tersusun begitu saja, melainkan mengikuti aturan yang ada. Untuk mengungkapkan
gagasan, pikiran atau perasaan, kita harus memilih kata-kata yang tepat dan
menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan bahasa.
Hal ini
berhubungan dengan sistem saraf kita. Mengapa kita dapat melakukan proses
berbahasa dengan cara tersusun rapi dan teratur? Itu karena adanya sel saraf.
Simanjuntak mengutip pendapat Broca
(dalam Harianja, bahwa Broca mengajukan tiga rumusan mengenai hubungan otak dengan bahasa: 1)
artikulasi bahasa diproses di konvolusi depan ke tiga hemisfer kiri otak, 2)
terdapat dominasi hemisfer kiri dalam artikulasi bahasa ; 3) memahami bahasa
merupakan tugas kognitif yang berlainan dari memproduksi bahasa.

Secara garis besar, sistem otak manusia dapat dibagi menjadi tiga, yakni
(1) otak besar (sereberum), (2) otak kecil (serebelum), (3) batang otak. Bagian
otak yang paling penting dalam kegiatan berbahasa adalah otak besar. Bagian
pada otak besar yang terlibat langsung dalam pemprosesan bahasa adalah korteks
serebral. Korteks selebral adalah bagian yang tampak seperti gumpalan-gumpalan
berwarna putih dan merupakan bagian terbesar dalam sistem otak manusia. Bagian
ini mengatur atau mengelola proses kognitif pada manusia, dan salah satunya
tentu saja adalah bahasa.
Korteks serebral terdiri atas dua bagian, yakni belahan otak kiri (hemisfer
kiri) dan belahan otak kanan (hemisfer kanan). Hemisfer kanan mengontrol
pemprosesan informasi spasial dan visual (melihat, memperkirakan, atau memahami
ruang atau benda secara tiga dimensi). Sementara hemisfer kiri mengontrol
kegiatan berbahasa disamping, tentu saja, proses kognitif yang lain. Koordinasi
di antara keduanya dimungkinkan karena adanya struktur yang menyatukan kedua
belah hemisfer ini, yakni korpus kalosum. Struktur yang berbentuk mirip tulang
rawan ini berperan dalam menyampaikan informasi diantara kedua hemisfer.
Segala
sesuatu yang kita lakukan salah satunya berbahasa yaitu berbicara. Semua itu di
atur oleh saraf. Seperti yang di jelaskan pada 3 kelompok sel saraf tersebut
yang memiliki fungsi masing-masing.
Sistem
saraf pada otak kita berkembang sejak kita dalam kandungan. Perkembangan saraf
terjadi bersamaan dengan pembentukan organ-organ eksternal janin pada masa
triwulan pertama. Menginjak akhir triwulan kedua proses perkembangan
organ-organ tubuh internal dan eksternal sudah cukup memadai sehingga organ
tubuh otakpun telah terbentuk dengan baik. Oleh karena itu otak sudah mampu
bekerja untuk menerima stimulus eksternal yang diberikan dari lingkungan
hidupnya. Setiap stimulus eksternal yang dapat diterima, ditangkap maupun di
pahami akan menjadi bahan-bahan jejak ingatan dalam otak janin.
Apabila
sel saraf kita tidak bekerja dengan baik atau terganggu, maka kegiatan yang tubuh
kita lakukan akan terganggu. Apalagi saraf pada otak yang terganggu. Contoh
pada seseorang yang terkena penyakit kangker otak. Sel-sel saraf pada otak akan
terganggu sehingga tidak berfungsi dengan baik. Maka dalam berbahasa akan
mengalami kesulitan. Hal ini dapat kita lihat pada salah satu artis Indonesia
yaitu Gugun Gondrong.
Dapat
kita lihat bahwa Gugun terkena kangker otak, setelah mengalami operasi, ada
beberapa saraf yang terganggu. Sehingga dalam berbicara tidak jelas
pengucapannya. Kemudia contoh lain, orang yang terkena penyakit struk. Orang
yang terkena penyakit struk juga sulit berbicara. Karena saraf pada bibir tidak
berfungsi dengan baik, maka pengucapannya tidak jelas atau dalam berbicara
sangat sulit.
Bahasa
yang tidak baik dihasilkan oleh sistem saraf yang tidak bekerja dengan baik
atau mengalami gangguan. Sistem saraf itu sangat berpengaruh besar pada
kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu, termasuk dalam berbahasa. Sering
kita lihat seseorang yang bahasanya terganggu disebabkan oleh sistem saraf yang
tidak bekerja dengan baik. Banyak di antaranya dipengaruhi saraf yang terjepit,
saraf yang sudah pecah, pembengkakan saraf yang mengakibatkan fungsi saraf itu
sendiri hilang.
Kesimpulannya
hubungan antara bahasa dengan saraf yaitu, bahwa apabila saraf kita bagus dan bekerja
dengan baik maka berbahasa kita juga akan baik. Tetapi apabila saraf kita terganggu
atau terluka dan tidak bekerja dengan baik, berbahasa kita juga akan kurang
baik atau terganggu. Sedangkan hubungan saraf dengan bahasa yaitu, bahasa
sebagai alat untuk menyampaikan ilmu-ilmu tentang saraf. Jika bahasa tidak ada,
maka ilmu-ilmu tentang saraf tidak dapat disampaikan.
PENUTUP
Bahasa merupakan suatu sistem atau simbol-simbol yang memiliki makna dan
teratur yang bersifat arbitrer yang digunakan manusia sebagai alat komunikasi.
Saraf merupakan salah satu organ tubuh pada manusia yang yang memiliki fungsi
sangat penting karena saraflah yang mengatur segala sesuatu yang dikerjakan
oleh manusia, termasuk dalam berbahasa.
Titik pusat saraf terdapat
di dalam otak. Otak merupakan bagian tubuh manusia yang terletak di dalam batok
kepala manusia yang memiliki peran sangat penting dalam tubuh manusia.
Dari penjelasan di atas, dapat di simpulkan bahwa bahasa dan saraf itu
sangat berhubungan erat. Apabila fungsi otak seperti saraf terganggu, dalam
berbahasa juga akan terganggu karena sistem saraf yang tidak bekerja dengan
baik Tidak dapat menghantar
impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat atau tidak dapat impuls dari sistem
saraf pusat ke otot atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap
rangsangan. Tetapi jiga sistem saraf kita bekerja dengan baik maka dalam
berbahasa juga akan bekerja dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, Yuri. 2011. Fungsi Kerja Otak Kanan dan Otak Kiri. Dapat
diakses di http://yurirobithoh.blogspot.com/menyeimbangkan-fungsi-kerja-otak-kanan.html.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum.
Jakarta : Rineke Cipta.
Faizah, Hasnah. 2009. Filsafat Ilmu.
Pekanbaru : Cendikia Insani.
Harianji, Nurilam.
Hubungan Bahasa Dengan Otak. Dapat
diakses di http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-Article-23516-Nurilam%20Harianja.pdf
Santoso, Kusno Budi. 1990. Problematika Bahasa Indonesia. Bandung:
Angkasa.
Subowo.
1993. Neurobiologi. Jakarta : Bumi
Aksara
Utasi, Sri Subyakto Nababan. 1992. Psikolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta
: Gramedia Pustaka Utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar